KETERKAITAN PEMBELAJARAN IPA BERBASIS SCIENTIFIC DENGAN LITERACY SAINS UNTUK MEMBANGUN CRITICAL THINKING SISWA SD
KETERKAITAN PEMBELAJARAN IPA BERBASIS SCIENTIFIC DENGAN LITERACY SAINS UNTUK MEMBANGUN CRITICAL THINKING SISWA SD
Joni Dwi Prasetyo1 Agus Arbai Mahmud2
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Jonidwi14@gmail.com
Abstrak
Pembelajaran dalam mata pelajaran IPA untuk peserta didik sekarang sudah dikembangkan dengan pengabungan mata pelajaran lain atau bisa dikatakan dibagi menjadi suatu "tema" dan di perkecil dengan pembagian “subtema”. Hal tersebut yang menjadi tantangan bagi seorang guru dalam menjelaskan suatu materi untuk pemahaman dan pengetahuan baru peserta didik, khususnya untuk membangun literacy sains dan critical thinking yang akan dimunculkan di setiap subtema. Pembelajaran IPA berbasis scientific untuk peserta didik pada hakikatnya harus memberikan suatu pengalaman langsung melalui kegiatan observasi menggunakan indera misalnya dalam bentuk mengidentifikasi, membuat keputusan, dan menyimpulkan yang berkaitan dengan interaksi dengan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Literacy sains dalam pembelajaran IPA dapat memperhatikan indikator-indikator literacy sains. unsur-unsur literacy sains dalam mata pelajaran IPA yaitu: (a) merumuskan indikator literacy sains dalam suatu kompetensi dasar, (b) memasukkan aspek literacy sains dalam pokok bahasan, (c) mengemas literacy sains dalam silabus dan RPP sehingga hal tersebut juga di ikuti dengan critical thinking peserta didik. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan pembelajaran IPA berbasis scientific dengan literacy sains untuk membangun critical thinking siswa sd.
Kata-kata kunci: Literacy sains, sicentific, pembelajaran IPA
Abstract
Learning in science subjects for students has now been developed by combining other subjects or can be said to be divided into a "theme" and reduced by the distribution of "subthemes". This is a challenge for a teacher in explaining a material for understanding and new knowledge of students, especially to build scientific literacy and critical thinking that will be raised in each sub-theme. Science-based science learning for students in essence must provide a direct experience through observation activities using the senses for example in the form of identifying, making decisions, and inferring related to interactions with science, the environment, technology, and society. Science literacy in science learning can pay attention to indicators of scientific literacy. elements of scientific literacy in science subjects, namely: (a) formulating indicators of scientific literacy in a basic competency, (b) incorporating aspects of scientific literacy in the subject, (c) packaging scientific literacy in the syllabus and lesson plans so that it is also followed with critical thinking of students. Writing this article aims to determine the relationship of science-based science learning with scientific literacy to build critical thinking for elementary school students.
Key words: Science literacy, science, science learning
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran dalam mata pelajaran IPA untuk peserta didik sekarang sudah dikembangkan dengan pengabungan mata pelajaran lain atau bisa dikatakan dibagi menjadi suatu "tema" dan di perkecil dengan pembagian “subtema”, untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang mampu menyiapkan kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat dicapai dengan pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bermakna. Agar pembelajaran IPA ini lebih bermakna serta dapat berguna dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka perlu diciptakan pembelajaran IPA yang membuat peserta didik dapat mengaplikasikan ilmunya dalam menghadapi permasalahan di kehidupan sehari-hari. Dalam kata lain, dengan pembelajaran ini peserta didik menjadi melek sains atau memiliki literasi sains yaitu mampu mengaitkan dan menggunakan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. IPA merupakan produk yang dihasilkan dari pemikiran manusia secara sistematis, terorganisasi dan terstruktur sebagai proses kreatif yang didorong oleh rasa ingin tahu (sense of knowledge), dan ketekunan yang dapat diulang kembali oleh orang lain secara berulang. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta dapat dikembangkan secara berkesinambungan dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2006). Karena pada hakikatnya pembelajaran IPA akan meningkatkan critical thinking peserta didik dengan penghubungan literasi sains dalam kehidupan sehari-hari, yang dimana critical thinking tersebut akan membuat peserta didik menentukan atau memecahkan suatu permasalahan akan lebih baik. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan literasi sains adalah kemampuan berpikir kritis (Critical Thinking). Abrucasto (dalam Ucu Cahyana, Abdul Kadir, Monalisa Gherardini 2017; 16) menyebutkan tujuan utama pendidikan sains adalah membentuk manusia yang memiliki kreativitas, berpikir kritis menjadi warga negara yang baik, dan menyadari karir yang luas. Pembelajaran sains mengarahkan peserta didik menjadi literat terhadap sains, maka harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Agar mereka dapat memahami dan kritis tidak hanya mengingat informasi tetapi juga pada pencapaian tujuan pembelajaran dalam arti luas, yaitu kepribadian peserta didik yang melek sains.
Kebutuhan akan kemampuan literasi sains terhadap peserta didik membuat negara-negara maju berpikir untuk membangun literasi sains sejak dini bagi peserta didik. Tidak dapat dipungkiri bahwa literasi sains memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan sains. Selain itu punya dampak yang besar pula di bidang lain misalnya sosial, budaya dan ekonomi. Implikasinya adalah bagi negara yang memiliki kemampuan literasi sains yang cukup tinggi maka memiliki tingkat perkembangan yang pesat pula. (dalam Risya Pramana Situmorang.2016;50) Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Dasar berpikir untuk memecahkan masalah artinya pertanyaan bangaimana yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan atau cara-cara tentang terjadinya sesuatu hal, sedangkan pertanyaan mengapa berkaitan dengan kegiatan atau cara–cara dalam membuat suatu kesimpulan setelah tahu tahap-tahap tenatang terajadinya suatu hal.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Scientific
Kurikulum 2013 saat ini merekomendasikan suatu perencanaan yang bersifat saintifik. Penggunaan pendekatan saintifik ditegaskan dalam muatan standar proses yang menuntut bahwa pembelajaran IPA disusun secara terpadu melalui pengembangan tema-tema tertentu (Permendikbud No 65 tahun 2013). Martin (1991: 102-103) (dalam Risya Pramana Situmorang. 2016:51) menjelaskan bahwa pendidikan sains salah satunya adalah membantu peserta didik memahami hukum dan teori-teori yang mendasarinya (biologi, fisika, kimia).
Abidin (2014) (dalam Yuyu Yuliati 2017;22) mendefinisikan pembelajaran saintifik sebagai pembelajaran yang dilandasi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran yang diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas inkuiri yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa. Berdasarkan pengertian tersebut diketahui bahwa pembelajaran ini menuntut siswa beraktivitas sebagaimana seorang ahli sains. Dengan kata lain proses pembelajaran saintifik memandu siswa untuk memecahkan masalah melalui kegiatan perencanaan yang matang, pengumpulan data yang cermat, dan analisis data yang teliti untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Lebih lanjut lagi Abidin (2014) (dalam Yuyu Yuliati 2017;22) menyatakan, demi mampu melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran ini, siswa harus dibina kepekaannya terhadap fenomena, ditingkatkan kemampuannya dalam mengajukan pertanyaan, dilatih ketelitiannya dalam mengumpulkan data, dikembangkan kecermatannya dalam mengolah data untuk menjawab pertanyaan, serta dipandu dalam membuat kesimpulan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukannya.
Sani (2014) (dalam Ardian Asyhari, Risa Hartati 2015;179), menyatakan bahwa pembelajaran saintifik erat kaitannya dengan metode saintifik (metode ilmiah), artinya pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan pendekatan ilmiah (scientifiec approach) dalam pembelajaran. Lanjutan penjelasan menurut Kemendikbud menjelaskan langkah-langkah pembelajaran saintifik yang terdiri dari 1) mengamati, 2) mengajukan pertanyaan, 3) melakukan penggalian informasi, 4) menalar, dan 5) mengomunikasikan. Barringer (dalam Abidin, 2017) menambahkan bahwa pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang menuntut siswa berpikir secara sistematis dan kritis dalam upaya memecahkan masalah. Bertemali dengan hal tersebut, pembelajaran ini akan melibatkan siswa dam kegiatan pemecahan masalah melalui kegiatan curah gagasan, berpikir kreatif, melakukan aktivitas penelitian/penyelidikan, dan membangun konseptualisasi pengetahuan. Jika merujuk pada teori pembelajaran, pembelajaran saintifik menganut teori pembelajaran konstruktivisme, di mana siswa membangun sendiri konseptualisasi pengetahuan-nya, peran guru hanya sebagai fasilitator selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Lerman (dalam Toharudin, dkk ; 2016) menyatakan bahwa konstruktivisme mempunyai dua hipotesis, yaitu 1) pengetahuan dikonstruksi secara aktif oleh individu; 2) menjadi tahu merupakan proses adaptasi, yaitu proses ketika individu berusaha mengorganisasikan pengalamannya dengan alam sekitarnya yang kemudian menjadi satu konsep. Dalam kutipan yang sama, salah satu prinsip konstruktivisme, yaitu pengetahuan dikonstruksi dari dalam diri individu dan dalam hubungannya dengan dunia nyata. Pengetahuan dibentuk dalam diri manusia dan dalam hubungannya dengan hal-hal yang ada di lingkungannya.
2. Literasi Sains
Literasi sains (Science Literacy) berasal dari gabungan dua kata Latin, yaitu Literatus, artinya ditandai dengan huruf, melek huruf, atau berpendidikan; dan Scientia, artinya memiliki pengetahuan. Menurut C. E de Boer (1991), orang yang pertama menggunakan istilah literasi sains adalah Paul de Hart Hurt dari Standford University. Menurut Hurt, Science literacy berarti tindakan memahami sains dan mengaplikasikannya bagi kebutuhan masyarakat. (dalam Toharudin, dkk.: 2016)
Pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam penentuan ketercapaian penguasaan literasi sains, Permendiknas RI No. 41 (2007: 6) menjelaskan bahwa proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Penjelasan tersebut dimaksudkan supaya pembelajaran menjadi aktivitas yang bermakna dimana setiap siswa dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya.
Menurut Poedjiadi (dalam Toharudin, dkk, 2016: 2) seseorang memiliki literasi sains dan teknologi ditandai dengan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains yang diperoleh dalam pendidikan sesuai dengan jenjangnya, mengenal produk teknologi yang ada di sekitarnya beserta dampaknya, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif dalam membuat hasil teknologi yang disederhanakan sehingga peserta didik mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai dan budaya masyarakat.
3. Kaitannya Pembelajaran IPA Berbasis Scientific dengan Literacy Sains dalam Membangun Critical Thinking Siswa SD
Sikap positif terhadap sains melatih seseorang untuk mengerjakan banyak tugas yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Hoolbrok dan Rannikmae (2009) (dalam Azimar Rusdi, Herbert Sipahutar, dan Syarifuddin 2017;78) menyatakan bahwa literasi sains mencakup kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan ilmiah dengan pemikiran yang kreatif. Keterampilan ilmiah perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung dan sikap positif terhadap sains dengan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam agar mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sains untuk kebaikan diri.
Tabel 1 Test of Between-Subjects Effects Nilai Posttest Keterampilan Berpikir Kritis dan Literasi Sains (dalam penelitian Galuh Rahayuni 2016;140)
|
Source |
Dependent |
Type III |
df Mean Square |
F |
Sig |
|
|
|
Variable |
Sum of Squares |
|
|
|
|
|
Corrected Model |
BK LS |
64,862a 11,787b |
1 1 |
64,862 11,787 |
25,460 9,346 |
0,000 0,003 |
|
Intercept |
BK |
3178,215 |
1 |
3178,215 |
1247,524 |
0,000 |
|
|
LS |
3251,715 |
1 |
3251,715 |
2578,365 |
0,000 |
|
Model |
BK |
64,862 |
1 |
64,862 |
25,460 |
0,000 |
|
|
LS |
11,787 |
1 |
11,787 |
9,346 |
0,003 |
|
Eror |
BK |
160,500 |
63 |
2,548 |
|
|
|
|
LS |
79,453 |
63 |
1,261 |
|
|
|
Total |
BK |
3452,500 |
65 |
|
|
|
|
|
LS |
3368,031 |
65 |
|
|
|
|
Corrected total |
BK LS |
225,362 91,239 |
64 64 |
|
|
|
Untuk mengetahui perbedaan keefektifan keterampilan berpikir kritis dan literasi sains secara terpisah-pisah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 merupakan tabel test of between-subjects effects. Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa pada kolom corrected model nilai signifikansi dependent variabel BK (Berpikir Kritis) adalah 0,000 dan 0,003 untuk dependent variabel LS (Literasi Sains). Dilihat dari kriteria pengujian hipotesis nilai sig dependent variabel BK ataupun LS keduanya memiliki nilai sig < 0,05; yang berarti Ho pada kedua hipotesis ditolak. Dengan demikian dapat diartikan bahwa ada perbedaan nilai BK karena perbedaan model dan ada perbedaan nilai LS karena perbedaan model.
Menurut Penelitian Galuh 2016;144 Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji multivariat manova diperoleh hasil bahwa pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran sains teknologi masyarakat sama-sama dapat mempengaruhi keterampilan berpikir kritis dan literasi sains peserta didik. Walaupun kedua model pembelajaran ini berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis dan literasi sains peserta didik, akan tetapi kedua model pembelajaran ini mempunyai perbedaan keefektifan dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan literasi sains peserta didik.
Dalam literasi sains terdapat aspek proses sains yang merujuk pada kemampuan menjawab atau memecahkan masalah yang termasuk dalam kegiatan mengambil keputusan berdasarkan pertimbang-pertimbangan sains. Dengan demikian peserta didik tentunya harus memiliki kemampuan berpikir kritis untuk dapat memahami sains. Dengan melakukan inkuiri ilmiah, seseorang dapat berpikir dan bertindak serta mengembangkan metode secara kreatif sehingga diperoleh suatu hal baru yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan. Munandar (2009) (dalam Azimar Rusdi, Herbert Sipahutar, dan Syarifuddin 2017;74) menyatakan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah. Proses berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen. Berpikir divergen digunakan untuk mencari ide-ide dalam menyelesaikan masalah secara ilmiah, sedangkan berpikir logis digunakan untuk memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang baik. Kemampuan dalam menjelaskan fenomena ilmiah dapat diperoleh dengan memiliki pengetahuan yang luas dan kemampuan analisis yang baik dan kreatif. Jawaban kritis yang dikemukakan akan muncul saat seseorang mampu berpikir secara divergen dan konvergen.
C. SIMPULAN
Pembelajaran dalam mata pelajaran IPA untuk peserta didik sekarang sudah dikembangkan dengan pengabungan mata pelajaran lain atau bisa dikatakan dibagi menjadi suatu "tema" dan di perkecil dengan pembagian “subtema”, untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang mampu menyiapkan kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat dicapai dengan pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bermakna. Sikap positif terhadap sains melatih seseorang untuk mengerjakan banyak tugas yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. bahwa literasi sains mencakup kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan ilmiah dengan pemikiran yang kritis. Keterampilan ilmiah perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung dan sikap positif terhadap sains dengan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam agar mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sains untuk kebaikan diri.
DAFTAR PUSTAKA
_____. 2013. Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Abidin. 2016. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama.
Agustin, Annuuru Tia, dkk. 2017. Peningkatan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Peserta Didik Sekolah Dasar melalui Model Pembelajaran Treffinger. Edutcehnologia, Tahun 3, Vol. 3, No. 2, Agustus 2017.
Asyhari, A. (2015). Profil peningkatan kemampuan literasi sains siswa melalui pembelajaran saintifik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 4(2), 179-191.
Bagiarata, I. N., Karyasa, I. W., & Suardana, I. N. (2018). Komparasi literasi sains antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI (group investigation) dan model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) ditinjau dari motivasi berprestasi siswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, 8(1), 16-25.
Cahyana, U., Kadir, A., & Gherardini, M. (2017). Relasi kemampuan berpikir kritis dalam kemampuan literasi sains pada siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan, 26(1), 14-22.
Depdiknas. 2006.Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Depdiknas. 2011. Panduan pengembangan pembelajaran IPA secara terpadu. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Depdiknas. Jakarta.
Holbrook, Jack. (2005). Making chemistry teaching relevant. Chemical education international, 6, 1-12.
Martin, Michael. 1991. Science Education and Moral Education. Dalam History, Philosophy, and Science Teaching, hal. 102-113; ed. Michael Matthews. OISE Press, Teacher College Press, Toronto & NY.
OECD. 2013. PISA 2012 Assessment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy, OECD Publishing. http://dx.doi.org/10.1787/97892641 90511-en.
Rahayuni, G. (2016). Hubungan keterampilan berpikir kritis dan literasi sains pada pembelajaran IPA terpadu dengan model PBM dan STM. Jurnal penelitian dan Pembelajaran IPA, 2(2), 131-146.
Sani, R.A. 2014. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Situmorang, R. P. (2016). Integrasi literasi sains peserta didik dalam pembelajaran sains. Satya Widya, 32(1), 49-56.
Syaban, M. F., & Wilujeng, I. (2016). Pengembangan SSP zat dan energi berbasis keunggulan lokal untuk meningkatkan literasi sains dan kepedulian lingkungan. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 2(1), 66-75.
Toharudin, U, et al. 2017. Membangun Literasi Sains Peserta Didik.Bandung: Humaniora.
Utami, S., & Sabri, T. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Literasi Sains IPA Kelas V SD. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 3(7).
Yuliati, Y. (2017). Literasi sains dalam pembelajaran IPA. Jurnal Cakrawala Pendas, 3(2).
Komentar
Posting Komentar